Sabtu, 06 Juni 2020

Sry Eka Handayani, Perempuan Inspiratif Agam, Berjuang dan Berkorban Demi Hadirnya Rumah Baca



Berawal dari sebuah impian, akhirnya Sry Eka Handayani warga Aro Kandikir, Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam berhasil mendirikan sebuah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang sudah diresmikan 2017 lalu. 

Tujuan lain dibangun TBM ini adalah atas keprihatinannya terhadap kemajuan teknologi yang begitu cepat. Bahkan era digital saat ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi anak-anak seperti merosotnya moral dan akhlak masyarakat. 

Sry Eka Handayani mengatakan, TBM yang diberi nama Rumah Baca Anak Nagari (RBAN) ini, berdiri begitu sederhana dengan modal 200 buku dan disusun di atas dua rak dalam ruangan 3×4 meter. Buku adalah hasil koleksi pribadi dan anak sulungnya sejak 2014. 

Seiring berjalannya waktu, akhirnya banyak buku didonasikan oleh orang-orang yang peduli dengan gerakan literasi. Sehingga jumlah buku di RBAN sudah cukup banyak dan disusun sesuai kelompok atau DDC perpustakaan. 

“RBAN dibuka setiap hari dan tanpa dipungut biaya kepada pembaca. Bahkan di sini pembaca dapat memperoleh banyak mafaat dari setiap program literasi yang diadakan oleh pengelola TBM,” ujarnya, Kamis (26/9). 

Program literasi yang diadakan adalah serangkaian acara bagi anak-anak untuk menumbuhkan bakat dengan beberapa kegiatan seperti, berpuisi, mendongeng, bercerita, menulis, bernyanyi dan membaca Alquran. 

Namun, sebuah keberhasilan tidaklah mudah diraih, karena membutuhkan proses panjang dan perjuangan untuk menggapainya. Perjuangan membutuhkan pengorbanan berupa materi, waktu dan sikap mental. Sebab merubah paradigma tidak semudah membalikkan telapak tangan. Penolakan-penolakan yang bentuknya merendahkan, sikap pesimis sampai tudingan-tudingan tidak berdasar merupakan tantangan yang dihadapi seorang inovator. 

Tantangan itu juga dialami oleh Sry Eka Handayani dalam mengelola TBM. Banyak suara sumbang yang diterima merendahkan kegiatan yang dirintisnya. Namun sikap pesimis orang-orang sekitar tidak membuat dirinya lemah, melainkan menjadi pengobar semangat untuk membuktikan yang dilakukannya itu tidak sia-sia. 

“Hal ini telah terbukti dan sudah dua tahun pula TBM diresmikan. Bahkan banyak prestasi yang diraih dan perubahan paradigma terlihat jelas di tengah masyarakat. Sebelumnya tidak mengizinkan anaknya untuk bergabung, sekarang para orang tua telah mengantarkan anaknya sendiri,” imbuhnya. (pry)

0 komentar:

Posting Komentar