Founder Rumah Baca Anak Nagari(RBAN)

Kunjungan Sekda Provinsi Sumatera Barat, Drs. Alwis ke Rumah Baca Anak Nagari (RBAN)

Perempuan Inspiratif

Kunjungan Ketua PKK Kabupaten Agam, Ibu Vita Indra Catri Ke Rumah Baca Anak Nagari

GUru Digital

Guru dituntut bisa beradaptasi dengan era digital demi menunjang pendidikan Indonesia yang lebih baik

Rumah Baca Anak Nagari

Sry Eka Handayani, M.Pd merupakan Guru sekaligus Founder Rumah Baca Anak Nagari (RBAN)

Minggu, 07 Juni 2020

Shalat Idul Fitri 1441 H Saat Covid 19


Shatlat Idul Fitri


Bulan Ramadhan tidak terasa begitu cepat berlalu sudah meninggalkan umat muslim. Semoga kita bertemu di Ramadhan tahun besok aamiin. Di bulan Ramadhan, terdapat begitu banyak amalan pahala yang berlipat ganda yang  bisa diraih . Puncak dari ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah kita menunggu hari kemenangan atau Idul Fitri yang disebut juga dengan hari raya. Pada tahun ini dan beberpa tahun sebelumnya umat islam di seluruh Indonesia melaksanakan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah secara serentak sesuai dengan jadwal yang ditentukan Pemerintah. Hari Raya Idul Fitri tahun ini  tepat pada tanggal  24  Mai 2020 Masehi. Pada hari raya Idul Fitri, umat Muslim di sunahkan untuk melaksanakan shalat Id.  Ini adalah shalat id perdana kita di Indonesia dimasa pandemi.
MUI juga sebelumnya telah mengeluarkan fatwa tentang panduan kaifiat takbir dan shalat Idul Fitri saat pandemi Covid-19. Fatwa MUI menyebutkan bahwa shalat Idul Fitri boleh dilaksanakan di rumah jika seseorang berada di kawasan dengan penyebaran Covid-19 yang belum terkendali. " Shalat Idul Fitri boleh dilaksanakan di rumah dengan berjamaah bersama anggota keluarga atau secara sendiri, terutama jika ia berada di kawasan penyebaran Covid-19 yang belum terkendali, sesuai "Petikan fatwa Nomor 28 Tahun 2020”. Sementara itu, jika umat Islam berada di kawasan dengan tingkat penularan Covid-19 yang sudah terkendali, shalat Idul Fitri dapat dilaksanakan secara berjemaah di masjid, mushala, tanah lapang, atau tempat lainnya. Daerah ini misalnya kawasan perdesaan atau perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terkena Covid-19 dan tidak ada keluar masuk orang.   
Pelaksanaan shalat Idul fitri, baik di masjid maupun di rumah, harus menerapkan protokol kesehatan dan mencegah terjadinya potensi penularan Covid-19.  Ada penetapan pejabat berwenang bahwa daerah tersebut merupakan daerah yang tidak sedang mewabahnya COVID-19. Daerah tersebut telah ditutup akses pintu masuk atau keluarnya sehingga tidak memungkinkan bercampur orang yang sehat dengan orang yang sakit. Untuk menghindari terlalu banyaknya jumlah jamaah yang terlibat dalam shalat Idul Fitri maka dilaksanakan dibeberapa tempat. Selalu memperhatikan prosedur pencegahan penularan COVID-19 seperti menyediakan tempat cuci tangan, menggunakan masker, dan jamaah dianjurkan membawa sajadah masing-masing. Untuk mencegah kemungkinan penularan wabah, maka shaff direnggangkan ketika shalat, ini diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat  dan pelaksanaan shalat  dan khutbah ditunaikan secara iqtishad atau sederhana dengan membaca ayat-ayat pendek serta meringkaskan khutbah.
Pandangan jumhur ulama, shalat  Idul Fitri dan Idul Adha adalahsunnah muakkadah. Dan bagi kaum muslimin yang tidak bisa, atau memilih tidak mengikuti berjamaah di lapangan atau di masjid karena ada udzur, maka diperbolehkan untuk menunaikannya sendiri atau berjamaah di rumah bersama keluarga. Pelaksanaan shalat  Ied di rumah adalah sama sebagaimana halnya pelaksanaan di lapangan atau di masjid, baik dari segi jumlah rakaat maupun jumlah takbirnya, tujuh kali takbir di rakaat pertama selain takbiratul ihram dan lima kali takbir pada rakaat kedua selain takbiratul ihram. Namun dalam ini, tidak disyaratkan khutbah sesudahnya.
Biasanya kebiasaan masyarakat di Indonesia selama ini, setelah shalat Id umat Islam saling memberi dan meminta maaf kepada sanak saudara atau tetangga dengan bersalam-salaman dan saling mengunjungi. Namun bagaimana halnya jika perayaan Idul Fitri dilakukan saat pandemi corona? Silaturahmi di Hari Raya, Sudah Ada Sejak Zaman Rasulullah. Kegiatan saling mengunjungi adalah budaya atau adat dari masyarakat Indonesia bila hari raya Idul Fitri sudah datang tiap tahun kita laksanakan. MUI mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan acara saling mengunjungi. Hal itu ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas.  "Kenapa kita imbau untuk sementara waktu tidak saling mengunjungi, karena hal ini jelas sangat berisiko tinggi, di tengah pandemi Covid-19, Dianjurkan bagi masyarakat untuk tidak melakukan beberapa tradisi-tradisi di atas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pasalnya sesuai anjuran pemerintah untuk tidak berkerumun dan selalu menjaga jarak guna menghindari meluasnya penyebaran virus corona. Tak perlu bersalam-salaman menjelaskan, di masa pandemi seperti ini boleh untuk tidak melakukan salam-salaman. Pasalnya, usaha menjaga dan melindungi diri masing-masing agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang akan membahayakan kesehatan adalah hal yang lebih utama. Dalam agama menjaga diri untuk tidak terjatuh ke dalam bencana dan malapetaka itu hukumnya adalah wajib, sementara bersalam-salaman itu hukumnya hanya sunah. Adapun sebagai gantinya agar tali silaturahmi tetap terjalin masyarakat dapat melakukannya melalui telepon, SMS, WhatsApp, dan media komunikasi lainnya. Intinya  walau masa pandemi silaturrahmi harus tetap terjalin dengan kecanggihan teknologi zaman sekarang. Ayo di rumah saja, sama-sama kita jaga iman dan imun tubuh kita. Semoga covid-19 cepat berlalu.

Gabung Menjadi Member E-GURU

Gabung dengan member E-Guru mendapatkan pelatihan secara online dengan sertifikat 32 Jam

Hai
Teman-teman ayo belajar dan belajar
Mau ikut pelatihan dengan Sertifikat 32 jam
Mau daftar klik link dibawah ini
Membership semesteran
https://bit.ly/PelatihanGuruOnline
Info selengkapnya :
https://wa.me/6281374555628


Permainan Tradisonal yang Terlupakan

Sebuah buku yang bercerita tentang permainan tradisional, yang mulai tergerus dengan perkembangan zaman

Judul : Permainan Tradisional yang Terlupakan
Penulis : Sry Eka Handayani, M.Pd
Editor : Hasan Achari Harahap
No. ISBN : 978-602-364-280-9
Penerbit : Goresan Pena
Tanggal tebit : Agustus-2020
Jumlah Halaman : 84
Dimensi : 13 x 19 cm

BerminatHP/WA : 081374555628

Pembuatan Video Promosi



Dunia digital telah mengubah cara memasarkan suatu produk, sekarang tidak zamannya lagi memasarkan produk dengan beriklan di Televisi atau Radio yang biayanya sangat mahal. 
Bagi para seller yang ingin memasarkan produknya bisa melalui media sosial. 
Video promosi merupakan cara ampuh untuk memasarkan produk melalui media sosial, seperti facebook, instagram, blog, WAG maupun telegram. 
Kamu kebingungan membuat video promosi ! 
Jangan Khawatir, percayakan kepada kami dalam membuat video promosi yang mempunyai nilai jual dimata konsumen, yang akan membuat produkmu banyak yang mencari.
Biaya Rp. 500.000/2 menit

Tunggu apalagi jika kamu kamu berminat!
Silahkan hubungi kami di



081374555628

Pentingnya Kecakapan Literasi Baca-Tulis di Abad-21 Bersama IGI dan Kanal Sagusablog

Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Masyarakat abad-21 mengalami perubahan yang sangat signifikan dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya. Perubahan tersebut didorong oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang mengalami lonjakan begitu cepat. Masyarakat abad 21 dimanjakan dengan alat-alat teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, laptop dan smartphone dengan fasilitas internet sehingga informasi dengan mudah dan cepat diketahui walaupun jaraknya jauh di belahan bumi yang lain.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut mengubah gaya hidup masyarakat abad 21 diberbagai sektor kehidupan, baik sosial, politik, budaya, hukum, ekonomi maupun pendidikan. Banyaknya informasi yang tersebar mewarnai kehidupan masyarakat abad-21. Informasi-informasi tersebut dapat diakses kapan saja dan dimana saja melalui smartphone. Informasi-informasi tersebut bisa berupa kata-kata, angka-angka maupun simbol-simbol yang dikemas dalam bentuk digital sehingga bisa dilihat, dibaca dan disebarkan hanya dengan sentuhan jari di layar smartphone. Informasi tersebut biasanya tersebar di dalam media sosial seperti Istagram, Twitter, Path, Whatsapp, Facebook serta Blog.

Rangkuman Materi Matematika

Berikut Rangkuman Materi Matematika

Rangkuman Materi IPA

Berikut Rangkuman Materi IPS

Rangkuman Materi IPS

Berikut Rangkuman Materi IPS

Rangkuman Materi PKN

Berikut Rangkuman Materi PKN
 

Sabtu, 06 Juni 2020

Hasil Try Out IPA Kelas VI B

Hasil Try Out IPA Siswa Kelas VIB

Soal Online

Silahkan kerjakan soal berikut ini! Ingat Waktu, kerjakan dengan fokus dan teliti selamat bekerja ! Semangat! Semangat!

Waktu Pengerjaan: 12:00 menit!


Sry Eka Handayani Tanamkan Nilai-Nilai Keislaman di Literasi RBAN




Keseriusan pemerintah dalam pengembangan literasi di dunia pendidikan, jadi katalisator bagi pegiat literasi mandiri untuk ikut menyukseskannya. Sry Eka Handayani, pegiat literasi di Sumatera Barat ingin menggali literasi secara lebih mendalam dengan penanaman nilai-nilai keislaman pada generasi muda.

"Literasi untuk meningkatkan nilai-nilai keislaman sangatlah penting, apalagi dimulai sejak dini," ungkap pendiri Rumah Baca Anak Nagari (RBAN), Sry Eka Handayani yang berlokasi di Jl Kusuma Bhakti No 12, Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Senin (8/7/2019).
Diharapakannya, RBAN dapat jadi salah satu wadah bagi penanaman nilai-nilai keislaman sejak dini melalui program literasi, seperti tahfiz, praktek ibadah yang sesuai dengan al Quran dan Sunah (wudhu, shalat, penyelenggaraan jenazah), pidato dakwah, doa-doa seharian yang sahih dan penanaman akhlak serta karakter mulia.
"Titian ke surga jadi salah satu program kerja dari RBAN yang kami implementasikan dalam bentuk aktivitas mengaji, tilawah, baca juz Amma, hafalan ayat-ayat pendek, salat lima waktu, azan, iqamat, puisi dakwah, ceramah agama, dan lainnya," terangnya.

"Alhamdulillah, peserta didik di RBAN sudah ada yang memiliki hafalan 1 hingga 2,5 juz al Quran. Program ini diterapkan untuk para peserta didik di RBA setiap hari Sabtu dan Minggu, mereka latihan dengan cara tampil di hari Minggunya, sesuai dengan minat dan bakatnya. Peserta didik di RBAN adalah kanak-kanak yang tiap hari datang ke RBAN," tambah dia.

"RBAN ingin ikut melahirkan generasi religius, beriman, bertakwa, berkarakter mulia, baik di rumah, di sekolah, dan di tengah masyarakat, yang membudayakan religiusitas dan karakter mulia. Diharapkan dengan adanya program Titian ke Surga, peserta didik memiliki karakter disiplin, kerja keras, mandiri, bertanggungjawab , kreatif, dan toleransi sebagai penguat karakter bangsa," kata Sry.
Dikatakan Sry, RBAN didirikan pada 4 Desember 2017 di Agam, untuk menumbuhkan minat baca dengan melakukan kegiatan literasi dan inklusi sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, agar generasi muda paham dan dapat mengamalkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-sehari, dengan mempraktekkan pelajaran keagamaan yang sudah mereka pelajari di sekolah.

"Untuk perkembangan dan kemajuan RBAN, kami butuh dukungan dan bantuan, baik berupa dana, buku-buku, alat tulis, meja baca, rak buku, serta sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan literasi kami. Perluasan ruangan juga sangat dibutuhkan saat ini, agar pengunjung yang ramai berdatangan dapat ditampun. Kami juga butuh beberapa unit komputer untuk dapat melaksanakan kegiatan literasi teknologi." (rls)

sumber:http://m.valora.co.id/berita/13198/sry-eka-handayani-tanamkan-nilai-nilai-keislaman-di-literasi-rban.html

Sry Eka Handayani, Perempuan Inspiratif Agam, Berjuang dan Berkorban Demi Hadirnya Rumah Baca



Berawal dari sebuah impian, akhirnya Sry Eka Handayani warga Aro Kandikir, Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam berhasil mendirikan sebuah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang sudah diresmikan 2017 lalu. 

Tujuan lain dibangun TBM ini adalah atas keprihatinannya terhadap kemajuan teknologi yang begitu cepat. Bahkan era digital saat ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi anak-anak seperti merosotnya moral dan akhlak masyarakat. 

Sry Eka Handayani mengatakan, TBM yang diberi nama Rumah Baca Anak Nagari (RBAN) ini, berdiri begitu sederhana dengan modal 200 buku dan disusun di atas dua rak dalam ruangan 3×4 meter. Buku adalah hasil koleksi pribadi dan anak sulungnya sejak 2014. 

Seiring berjalannya waktu, akhirnya banyak buku didonasikan oleh orang-orang yang peduli dengan gerakan literasi. Sehingga jumlah buku di RBAN sudah cukup banyak dan disusun sesuai kelompok atau DDC perpustakaan. 

“RBAN dibuka setiap hari dan tanpa dipungut biaya kepada pembaca. Bahkan di sini pembaca dapat memperoleh banyak mafaat dari setiap program literasi yang diadakan oleh pengelola TBM,” ujarnya, Kamis (26/9). 

Program literasi yang diadakan adalah serangkaian acara bagi anak-anak untuk menumbuhkan bakat dengan beberapa kegiatan seperti, berpuisi, mendongeng, bercerita, menulis, bernyanyi dan membaca Alquran. 

Namun, sebuah keberhasilan tidaklah mudah diraih, karena membutuhkan proses panjang dan perjuangan untuk menggapainya. Perjuangan membutuhkan pengorbanan berupa materi, waktu dan sikap mental. Sebab merubah paradigma tidak semudah membalikkan telapak tangan. Penolakan-penolakan yang bentuknya merendahkan, sikap pesimis sampai tudingan-tudingan tidak berdasar merupakan tantangan yang dihadapi seorang inovator. 

Tantangan itu juga dialami oleh Sry Eka Handayani dalam mengelola TBM. Banyak suara sumbang yang diterima merendahkan kegiatan yang dirintisnya. Namun sikap pesimis orang-orang sekitar tidak membuat dirinya lemah, melainkan menjadi pengobar semangat untuk membuktikan yang dilakukannya itu tidak sia-sia. 

“Hal ini telah terbukti dan sudah dua tahun pula TBM diresmikan. Bahkan banyak prestasi yang diraih dan perubahan paradigma terlihat jelas di tengah masyarakat. Sebelumnya tidak mengizinkan anaknya untuk bergabung, sekarang para orang tua telah mengantarkan anaknya sendiri,” imbuhnya. (pry)

Profil Rumah Baca Anak Nagari



Rumah Baca Anak Nagari, salah satu sudut baca di Sumatera Barat, tepatnya di kota wisata yang terkenal dengan Jam Gadang, Pasar atas, Pasar Bawah, Lobang Jepang dan berbagai tempat wisata yang menawarkan keindahan alam dan nilai-nilai sejarah.
Rumah Baca Anak Nagari yang berlokasi di jalan Kusuma Bhakti No. 12 Simpang Taman Ujung By Pass  Gulai Bancah Bukittinggi berdiri 4 Desember 2017. Ide didirikan rumah baca bermula dari keperihatian Sry Eka Handayani, M.Pd (Pendiri Rumah Baca Anak Nagari) dengan kondisi anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya yang jauh dari buku, sehingga minat baca sangatlah rendah. Anak-anak tersebut disibukan dengan gadget dengan berbagai permainan yang kurang mendidik didalamnya.
Sry Eka Handayani yang kesehariannya disibukan dengan dunia anak-anak karena berprofesi sebagai guru di SDN 10 Sapiran Bukittinggi dan juga sebagai bunda dari sepasang anak yang masih kecil mempunyai impian yang telah lama ingin diwujudkan bersama sang suami yakni mempunyai perpustakaan di rumahnya. Hal ini juga didukung oleh anak sulungnya yang mempunyai hobi membaca sejak berumur 3,5 tahun sangat gembira dengan kehadiran Rumah Baca Anak Nagari.
Berdirinya Rumah Baca Anak Nagari sebagai salah satu wujud kepedulian seorang tenaga pendidik bagi bangsa ini, sebuah dedikasi yang bisa dinikmati  secara langsung oleh masyarakat sekitar, diharapkan dengan adanya Rumah Baca Anak Nagari dapat meningkatkan minat baca bagi anak-anak sebagaimana moto dari Rumah Baca Anak Nagari ” Menumbuhkan Minat Baca, Mencerdaskan Bangsa”.

Kalender Pendidikan Periode 2019/2020

Berikut Kalender Pendidikan Periode 2019-2020
 

Silabus Kelas 3 Tema 8 Subtema 1 Pembelajaran 1

Berikut Silabus Kelas 3 Tema 8 Subtema 1 Pembelajaran 1

RRP Kelas 3 Tema 8 Subtema 1 Pembelajaran 1

Berikut ini RPP Kelas 3 Tema 8 Subtema 1 Pembelajan 1